Akar Presiden Soeharto dari Desa Ngebel di Wuryantoro, Wonogiri
![]() |
| Kamar Soeharto Kecil Diabadikan dalam Sudut Museum Wayang Indonesia, Wonogiri. (Foto : Wulan Eka Handayani/ Telusur Wonogiri) |
Oleh : Wulan Eka Handayani
Pada tahun 1929, ketika Presiden Soeharto kecil berusia 8 tahun, ia tiba di Desa Ngebel, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri. Rumah pamannya, Pak Bei Tani di sisi timur Jalan Raya Wuryantoro tepatnya nomor 184 menjadi saksi sejarah kisah perjalanan kanak-kanaknya.
Ayahnya menitipkan Soeharto ke pamannya yang bernama asli Prawirowihardjo dan bibinya, Sanikem. Sebab orang tuanya bercerai sejak ia kecil.
Pak Bei Tani diberi mandat oleh Praja Mangkunegaran yang berkuasa di wilayah Wonogiri saat itu sebagai Mantri Tani. Dengan posisi tersebut, Paman Soeharto itu ditugaskan untuk mendampingi dan melatih para petani di wilayah Kecamatan Wuryantoro dalam mengolah lahan mereka.
Ayah Soeharto berharap anaknya tersebut dibimbing dengan baik oleh pamannya. Seiring perjalanan waktu, Prawirowihardjo menjadi ayah angkat Soeharto.
Soeharto dianggap seperti putra tertua Prawirowihardjo. Ia diperlakukan sama dengan putra-putra kandung Prawirowihardjo (soehartolibrary.id, 2013). Pendidikan yang diperoleh selama di Wuryantoro bahkan lebih baik daripada yang diterimanya sewaktu di Kemusuk, tempat kelahirannya.
Soeharto mulai bersekolah di sekolah rendah atau setara Sekolah Dasar (SD) kelas 3. Konon sekolah yang pernah menjadi almamater Soeharto menjadi cikal bakal SD Negeri 1 Wuryantoro saat ini. Dengan lokasi yang masih sama dengan yang ada sekarang.
Bangku sekolah yang pernah digunakan Soeharto di SD Negeri 1 Wuryantoro masih tersimpan rapi di Rumah Pak Bei Tani. Dirawat dengan baik untuk mengabadikan jejak Soeharto menuntut ilmu di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
![]() |
| Bangku Sekolah Ketika Soeharto Menempuh SD di Wuryantoro, Wonogiri Masih Tersimpan Utuh. (Foto : Wulan Eka Handayani/ Telusur Wonogiri) |
"Pak Harto mulai membangun karakter di Wuryantoro ini. Pak Bei Tani mendidik Soeharto kecil agar cakap dalam bertani dan berkebun," papar Rakino, pengelola Rumah Pak Bei Tani yang kini bertransformasi menjadi Museum Wayang Indonesia, pada Senin, 30 Maret 2026.
Selama sekolah, Soeharto menekuni semua pelajaran. Pelajaran yang ia gemari yakni berhitung. Gurunya bahkan memuji kemampuannya berhitung.
Di rumah pamannya, Soeharto juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat. Sebab keluarga pamannya termasuk kaum religius.
Pada waktu senggang, Soeharto dan teman-temannya bermain sepakbola. Hampir setiap sore mereka menyambangi tanah lapang dusun.
Bolanya berupa buah jeruk purut, dibalut kain, dan dililit senar. Maklum, karena saat itu belum ada bola plastik.
Dalam wawancara Ahmad Effendi, penulis mojok.co terhadap teman kecil Soeharto menyebutkan bahwa Presiden kedua RI (Republik Indonesia) selama 32 tahun itu adalah bek tangguh pada masanya.
Sepuluh tahun, Soeharto itu melewati masa kecilnya dengan angon kambing dan memanen jagung. Pamannya memberikan pengetahuan terkait pertanian secara teori dan praktek langsung di lapangan.
Prawirowihardjo memberi kesempatan Soeharto untuk mengelola tanah kebun percontohan yang disukainya, di desa Ngungking, Kenongo, dan Tangkil. Tak jarang, Pamannya melibatkannya dalam sesi diskusi dengan petani. Pengetahuan dan pengalamannya mengenai pertanian pun semakin terasah.
Setelah lima tahun menamatkan SD, Soeharto dimasukkan di sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Soeharto dan sepupunya, Sulardi pindah rumah ke Selogiri. Mereka tinggal di rumah kakak perempuan yang menjadi istri pegawai pertanian.
Mereka suka berboncengan ketika Sulardi sudah dibelikan sepeda oleh kakaknya, Sudiarto. Biasanya mereka naik sepeda ke sekolah. Perjalanan ke Kemusuk di hari-hari libur pun mereka tempuh untuk menengok orang tua Soeharto.
Soeharto pernah tinggal di Wonogiri di keluarga teman ayahnya, Hardjowijono, seorang pensiunan pegawai kereta api sebelum kembali ke Kemusuk untuk menempuh schakel Muhammadiyah.
Ayah Soeharto menyarankan agar ia bekerja setelah menamatkan schakel Muhammadiyah karena biaya sekolah lanjutan terbatas. Tak ada yang sanggup menyekolahkannya, termasuk sanak saudara.
Ia sempat kembali ke Wuryantoro. Kala itu Soeharto diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Ia memilih mengambil pekerjaan tersebut meski tidak begitu menyukainya. Menurutnya mengambil pekerjaan tersebut lebih baik daripada menganggur.
Dengan mengayuh sepeda, Soeharto mengikuti klerek bank berkeliling kampung. Ia mengenakan pakaian Jawa lengkap. Tak lupa kain blangkon dan baju beskap.
Mereka berkeliling kantor-kantor lurah untuk melayani permintaan para petani, pedagang kecil, dan pemilik warung yang ingin mengajukan pinjaman bank.
Di malam hari, Soeharto meminta Kamin, temannya yang menjadi Mantri Bank Desa untuk mengajarkan pembukuan. Tidak sampai dua bulan, Soeharto berhasil menguasai seluruh teknis pembukuan. Namun karena merasa bukan passion-nya bekerja sebagai pembantu klerek, Soeharto mengundurkan diri.
Di masa berjuangnya ketika dewasa muda, ia sempat mengadu nasib ke Solo, namun tak mendapatkan hasil yang diharapkan. Ia pun kembali ke Wuryantoro. Di sana, ia mengisi kegiatan dengan pekerjaan gotong royong, membangun sebuah langgar, menggali parit, dan membereskan lumbung.
Hidup selanjutnya membawanya pada tataran berikutnya. Termasuk mendaftar ke angkatan militer hingga perjalanan karir-karir setelahnya.
Sampai saat kini, pengelola Museum Wayang Indonesia masih mengabadikan ruang kamar Soeharto semasa kecil dalam salah satu sudut kantor museum. Rakino menyatakan bahwa kamar tersebut sempat dipugar, namun tetap mempertahankan esensi ruangan sesuai aslinya. Buku-buku biografi Soeharto turut dipajang di kamar, seolah mengisi kepingan-kepingan perjalanan kehidupan Soeharto yang salah satunya pernah menjejakkan kaki di Wuryantoro.
Referensi :
Effendi, A. (2023). Menelusuri Jejak Masa Kecil Soeharto di Wonogiri. Diakses dari https://mojok.co/kilas/sosial/menelusuri-jejak-masa-kecil-soeharto-di-wonogiri/ pada 24 September 2026
soehartolibrary.id. (2013). Akar Saya Dari Desa[1]. Diakses dari https://soehartolibrary.id/akar-saya-dari-desa/pada 11 September 2026



Komentar
Posting Komentar