Wonogiri juga Punya Kesenian Reog, Lho....
Kesenian reog Ponorogo telah mengilhami kesenan reog di Wonogiri. Kesenian reog di Wonogiri dikenal masyarakat sebagai reog Ponorogo. Ciri khas reog yang berkembang di daerah Wonogiri yakni jenis Reog Caplok, Jaran Dhor atau Jaran Senthewere, dan Jaran Kepang atau Jathilan.
Kesenian reog mula-mula menyebar di daerah Wonogiri bagian Timur, seperti: Purwantoro, Bulukerto, Kismantoro dan sekitarnya. Letak geografis Wonogiri Timur yang berbatasan langsung dengan Ponorogo menjadi penyebabnya. Berdasar pendekatan persebaran kebudayaan atau pendekatan “diffusi kebudayaan”, unsur-unsur kebudayaan pada dasarnya dapat menyebar dari satu tempat ke tempat yang lain, seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya.
Sejarahnya, kesenian reog tercipta pada masa Kerajaan Bantarangin abad XII. Tercetus dari peristiwa lamaran yang dilakukan oleh raja Bantarangin yang bernama Klono Sewandono terhadap putri Kerajaan Kediri yang bernama Dewi Songgolangit. Tak diketahui kapan dan dimana lahirnya kesenian reog secara pasti. Pelaku kesenian reog di Wonogiri sudah mewarisi kesenian tersebut dari para pendahulu mereka.
Perkembangan kesenian reog di Wonogiri tahun 1980-1990 tergolong pesat terutama didominasi oleh kelompok reog lokal. Pada tahun 1990-2000, kesenian reog di Wonogiri mengalami perkembangan lebih lanjut dengan munculnya jathil perempuan, tarian warok, dan Klono Sewandono. Pada tahun 2000-2005, kesenian reog di Wonogiri tampak lebih pesat dengan didominasi oleh kelompok reog kabupaten yang berhasil menjuarai FRN dan FRMN di Ponorogo.
Sumber : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X (DIY & Jateng)



Komentar
Posting Komentar