Wonogiri, Ibu Kota Mie Ayam

Wilayah yang adoh ratu cedak watu membuat penduduk Wonogiri merantau ke perkotaan untuk mencari sesuap nasi. Sejak abad 19-an di kala pemerintah kolonial Hindia Belanda, banyak kaum boro, atau perantau dari Wonogiri yang bekerja di warung mie milik etnis Tionghoa di Pasar Gede. 



Ilustrasi MIe Ayam (Sumber Gambar : Telusur Wonogiri).


Keterampilan membikin mie didapatkan di tempat tersebut. Menjadi modal penduduk Wonogiri menerjang bursa kerja informal di perantauan. Apalagi setelah kemerdekaan, banyak kaum boro Wonogiri bekerja di Jakarta. Banyak penduduk yang memilih bekerja di warung mie milik orang Tionghoa bermodal kemampuan membuat mie yang dikuasainya. 


Setelah merasa cukup siap, para kaum boro menjajal keberuntungannya dengan usaha mandiri berjualan mie ayam di Jakarta. Beberapa di antaranya pulang dan membuka warung mie ayam di tempat asalnya. 


Hingga kini, stereotipe perantau dari Wonogiri menjadi penjual mie ayam semakin merebak ke berbagai daerah di Indonesia.


Mie ayam Wonogiri menjadi primadona. Selalu cocok di lidah pembeli, terlebih cocok di kantong. Terjangkau harganya. 


Tak mengherankan jika mie ayam akan selalu laku sepanjang masa. Sebagai kuliner yang mudah diakses di berbagai kondisi, oleh semua kalangan masyarakat. 


Sumber : mojok.co/Ahmad Effendi

Komentar

Postingan Populer